Ironi Guru di Hari Guru


Hari Guru selalu membawa suasana hangat.

Ada anak-anak membawa bunga plastik, ada ucapan manis yang memenuhi grup WhatsApp, dan ada panggung kecil di sekolah untuk mengucapkan terima kasih.
Semua terasa indah, penuh apresiasi.

Tapi, Ang… di balik semua itu, ada kisah lain yang jarang kita dengar.
Kisah tentang guru-guru yang terus menyalakan cahaya, meski angin dari segala arah mencoba memadamkannya.

Hari ini, guru dituntut untuk serba bisa.
Ia harus menjadi pendidik, pembimbing, konselor, motivator, pendengar kesedihan murid, penengah konflik kelas, ahli teknologi, sekaligus panutan moral.
Dalam satu hari, guru bisa berubah menjadi sepuluh peran.
Namun anehnya, penghargaan yang ia terima tidak pernah sebanding dengan beban yang ia pikul.

Ironi itu makin jelas ketika kita melihat kenyataan:
guru adalah profesi yang paling sering disalahpahami,
paling cepat dikomentari,
dan paling rawan berhadapan dengan masalah hukum.

Ada guru yang menegur murid, lalu dilaporkan.
Ada guru yang memisahkan murid berkelahi, lalu dituduh kasar.
Ada guru yang memberi konsekuensi disiplin, lalu diviralkan tanpa konteks.
Dan ada guru yang hanya mencoba menjaga ketertiban kelas, tapi harus duduk di ruang pemeriksaan berjam-jam.

Torment-nya bukan sekadar lelah fisik, Ang.
Tapi lelah batin—karena guru yang berniat mendidik justru sering dianggap melanggar.

Padahal, tidak ada guru yang bangun pagi dengan niat menyakiti murid.
Tidak ada guru yang ingin membentak.
Tidak ada guru yang ingin terlihat keras.
Banyak dari mereka hanya berusaha bertahan, sambil tetap menjaga agar kelas tetap terarah.

Namun, dunia pendidikan kini berubah begitu cepat.
Murid lebih kritis, orang tua lebih sensitif, dan media sosial bisa membesarkan masalah sekecil debu.
Sementara perlindungan terhadap guru sering tertinggal jauh di belakang.

Hari Guru, mestinya bukan sekadar seremoni.
Hari Guru mestinya menjadi cermin besar—tempat kita bercermin bersama.
Menyadari bahwa guru adalah manusia yang bekerja di garis pertama, memegang masa depan bangsa, tetapi sering dibiarkan berjalan tanpa perisai.

Kalau kita betul-betul ingin menghormati guru, ada hal-hal penting yang harus kita lakukan.

Pertama, berikan perlindungan hukum yang jelas.
Guru yang mendidik dengan cara yang benar tidak boleh dihukum hanya karena kesalahpahaman.

Kedua, bangun budaya kolaborasi.
Orang tua bukan lawan, guru bukan tersangka, murid bukan korban permanen.
Ketiganya adalah satu tim.

Ketiga, perkuat pemahaman disiplin tanpa kekerasan.
Bukan berarti guru tidak boleh tegas.
Tegas itu perlu—yang hilang adalah kekerasannya, bukan disiplinnya.

Keempat, mari berhenti menjadikan guru pelampiasan.
Tidak semua masalah murid adalah kesalahan guru.
Ada faktor keluarga, lingkungan, pertemanan, hingga tekanan digital yang jauh lebih besar dari sekadar ruang kelas.

Dan kelima, mari kita mulai melihat guru sebagaimana mestinya:
sebagai manusia yang juga butuh dihargai, didengar, dan dilindungi.

Ang…
Di balik ucapan “Selamat Hari Guru”, ada hati yang mungkin sedang retak, ada tenaga yang hampir habis, ada pikiran yang terus memikirkan murid-muridnya meski hari sudah larut malam.

Mari kita rawat para guru,
sebagaimana mereka merawat generasi kita.

Karena tanpa guru,
tidak ada kelas.
Tidak ada ilmu.
Tidak ada masa depan.

Selamat Hari Guru.
Semoga bukan hanya hari ini kita mengingat mereka,
tapi setiap hari, dalam setiap langkah bangsa ini.

@Ciremai Residence

Deni Kurnia
Deni Kurnia Seorang Pembelajar, tak Lebih

Posting Komentar untuk "Ironi Guru di Hari Guru"